Di setiap tempat yang dituju portal, Leena dan kelompoknya langsung mencari para penduduk yang masih terjebak. "Kami di sini untuk menyelamatkan kalian! Ikuti kami ke portal utama!" seru Leena kepada sekelompok anak-anak yang menangis ketakutan karena getaran di pulau yang tidak ada hentinya.

Di tempat lain, Narendra membantu seorang wanita tua yang terjatuh. "Ayo, Bu. Kita harus keluar dari sini sekarang," katanya sambil memapah wanita itu menuju portal kecil.

Kael dan para penduduk bekerja sama membawa seorang pria yang kakinya terluka parah, sementara Rira membantu menenangkan para anak-anak yang kebingungan. "Jangan takut, kami di sini untuk membawa kalian keluar," kata Rira dengan nada lembut namun tegas.

Di sisi lain, Karim memimpin sekelompok penduduk menuju portal kecil yang membawa mereka kembali ke portal dimensi utama. "Cepat! Pulau ini akan runtuh kapan saja!" teriak Karim, suaranya menggema di antara gemuruh tanah yang retak.

Untuk mempercepat prosesnya, mereka meminta penduduk yang masih muda untuk membantu mereka mencari penduduk lainnya dengan memasuki portal lain yang sudah dibuat oleh Lynx namun belum ada yang memasuki. Mereka juga diminta berhati-hati karena banyak mahluk buas dan mutasi yang mengamuk karena panik dengan kondisi pulau.

Para pemuda yang mendapatkan tugas, tanpa banyak tanya segera mengikuti apa yang sudah dilakukan oleh orang-orang yang menyelamatkan mereka. "Pulau ini akan hancur, aku harus menyelamatkan para penduduk lainnya," batin para pemuda yang ikut membantu menyelamatkan para penduduk yang tertinggal.

Sementara itu, Lynx melayang di udara, memejamkan matanya untuk memusatkan energinya. Dia berusaha mengendalikan situasi dari ketinggian, merasakan setiap getaran di sekelilingnya. Ketika dia menyadari salah satu anggotanya dalam bahaya—karena binatang mutasi yang mengamuk atau pepohonan yang jatuh hendak menimpa—dengan gerak kilat, Lynx segera bergerak memasuki portal teleportasi untuk menolong mereka.

Namun, di saat yang sama, dia juga harus terus mengalirkan dan mempertahankan energinya, memastikan bahwa pulau ini tidak runtuh sebelum waktunya. Fokusnya terbagi, tetapi tekadnya tak tergoyahkan; dia tahu bahwa setiap detik berharga dan keberadaan pulau ini bergantung pada kemampuannya untuk menjaga keseimbangan.

Dia merasakan setiap retakan di tanah, setiap getaran yang mengancam untuk menenggelamkan pulau ke dasar laut. Dengan kedua tangannya, dia menciptakan lapisan energi besar yang menyelimuti seluruh pulau, menstabilkan gerakannya agar tidak segera runtuh.

"Aku harus bisa mempertahankan pulau ini cukup lama... mereka harus kembali dengan selamat, Pulau ini hanya bisa dipertahankan dengan kekuatanku, tapi tidak mungkin selamanya aku menahannya." pikirnya, tubuhnya mulai berkeringat karena tekanan yang luar biasa.

Meski kekuatan barunya terasa tidak terbatas, mempertahankan sebuah pulau yang tidak memiliki pondasi, dari kehancuran adalah tugas yang sangat berat.

Di bawahnya, kelompok-kelompok penduduk yang tersisa mulai kembali melalui portal kecil ke arah portal dimensi utama. Para penduduk yang sudah lebih dulu masuk ke portal dimensi memandang dengan harap-harap cemas, menyaksikan setiap orang yang kembali dengan selamat.

Leena muncul dari salah satu portal kecil, menggiring sekelompok anak-anak dan orang tua ke portal utama. "Cepat! Jangan berhenti!" serunya, memastikan tidak ada yang tertinggal.

Narendra dan Lala tiba beberapa saat kemudian dengan membawa kelompok lain. "Ini kelompok terakhir yang aku temukan," kata Narendra, wajahnya penuh kelelahan.

Lynx, yang masih melayang di udara, membuka matanya dan melihat bahwa semua penduduk sudah berhasil kembali ke portal utama. Dengan satu tarikan napas dalam, ia memusatkan energinya sekali lagi untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. "Aku berhasil... semua orang selamat."

"Masuklah ke portal dimensi sekarang juga!" teriak Lynx dari udara, memastikan semua penduduk melewati portal utama. Penduduk terakhir melangkah masuk, membawa harapan dan rasa syukur karena berhasil selamat dari kehancuran.

Lynx melayang turun dari udara, tubuhnya bergerak dengan anggun meski ada sedikit kelelahan yang terlihat di wajahnya. Portal dimensi yang memancarkan cahaya biru terang kini berdiri tegak, menunggu langkah terakhirnya. Di tepi portal, Leena dan yang lainnya berdiri, memandang Lynx dengan mata penuh rasa lega dan harapan.

"Lynx, ayo! Semua sudah masuk, tinggal kita!" seru Leena dengan suara yang sedikit bergetar.

Lynx melihat Leena, Arkha, Narendra, Karim, Kael, Lala, Jelita dan Rira serta Darek tersenyum kepadanya.

Namun, sebelum Lynx sempat melangkah, udara di sekitar portal mulai berubah. Angin berputar kencang, menciptakan badai dimensi yang semakin menggila. Warna biru di sekitar portal mulai berubah menjadi merah pekat, sementara suara gemuruh semakin keras, mengguncang tanah di sekitarnya.

Leena berusaha melindungi wajahnya dari hembusan angin yang tajam. "Apa yang terjadi? Lynx, cepat masuk!" teriaknya, suaranya hampir tenggelam oleh gemuruh.

"Ayo Lynx, kita masuk bersama-sama," teriak Jelita sambil menutupi matanya dari debu yang berterbangan.

Lynx memejamkan matanya, mencoba merasakan apa yang sedang terjadi. Ia segera menyadari masalahnya. "Ini semua karena aku... kekuatanku terlalu besar. Badai ini muncul karena ketidakseimbangan energi yang aku bawa, mereka menolakku," pikirnya dengan getir.

Ia menatap portal yang semakin tidak stabil, lalu memandang Leena dan yang lainnya. "Leena...semuanya.... aku tidak bisa masuk seperti ini," katanya pelan, tetapi cukup jelas untuk didengar oleh mereka semua.

"Apa maksudmu? Kau harus masuk! Kau sudah menyelamatkan semua orang, sekarang giliranmu!" Kata Karim dengan rasa khawatir mulai muncul kembali.

Lynx menggelengkan kepala. "Jika aku mendekat, kekuatanku akan membawa masalah. Kalian lihat, portal ini bergejolak ketika aku mendekat. Jika aku memaksa, portal ini akan hancur karena tubuhku akan menyerap energi yang ada didalamnya,"

"Lalu bagaimana Lynx? Pasti ada solusinya kan?" Tanya Lala dengan kekhawatiran terkuat jelas di wajahnya.

"Aku belum bisa mengendalikan kekuatanku dengan baik. Selain itu, aku mempunyai dugaan kuat, dunia yang akan kita datangi akan hancur dengan keberadaanku. Kekuatanku tidak bisa di terima oleh dunia mereka,"

"Tidak Lynx, aku tidak mau meninggalkanmu. Kamu harus masuk." Leena berteriak, air matanya mulai mengalir, menyadari apa yang mungkin Lynx maksudkan.

Lala dan Jelita saling berpelukan menahan sedih hatinya karena melihat masalah yang dihadapi Lynx, padahal jalan keluar sudah didepan mata.

Lynx berpikir cepat dan teringat salah satu methode yang ada dari ingatan leluhur Xiao Tang, "Hanya ada satu cara agar aku bisa melewati portal ini dengan aman, yaitu menyegel kekuatanku."

"Leena, aku punya cara untuk melewatinya, tetapi..." kata Lynx ragu.

"Apa Lynx? cepat lakukan? Lihat air laut sudah mulai tinggi." teriak Leena dengan panik.

Lynx lalu membuat formasi yang membuat tidak ada seorangpun dapat mendengar kecuali Leena. "Aku... aku harus menyegel kekuatanku. Dan untuk memastikan kekuatan ini tidak aktif lagi, aku harus menyegel ingatanku juga. Kekuatanku terhubung dengan ingatanku. Selama aku ingat siapa diriku, kekuatan ini bisa saja muncul tanpa sengaja di dalam portal dimensi dan membahayakan kita."

Leena menggeleng keras, menolak mendengar penjelasan itu. "Tidak! Tidak ada cara lain? Kau tidak boleh melakukan ini, Lynx! Aku tidak bisa kehilanganmu!"

Lynx tersenyum tipis, penuh rasa bersalah. "Leena,kamu tidak perlu khawatir, saat kita sampai di tempat tujuan, kamu bisa membantuku dengan melepas segel yang akan kupasang di cincin ini, kamu cukup mengalirkan darahku ke cincin ini." Bisiknya ke telinga Leena.

Sebelum Leena sempat menjawab, Lynx mengeluarkan seuntai kalung dari cincin penyimpanan lalu melepaskan cincin dari jarinya dan memasangnya menjadi liontin kalung. Lynx mengulurkan tangannya ke dada dan membuat formasi, lalu memusatkan kekuatan pada akar spiritualnya. Cahaya keemasan muncul dari tubuhnya, menyelimuti dirinya dengan energi yang mengalir pelan.

Dalam sekejap, kekuatan besar yang menyelimuti Lynx mulai meredup, lalu hilang sepenuhnya. Ia merasakan tubuhnya menjadi ringan, tetapi juga kosong. Sekaligus, pikirannya menjadi kabur, ingatannya mulai memudar. Sementara liontin cincin yang dipegangnya berubah bentuk menjadi batu.

"Aku... aku siapa?" gumamnya pelan sebelum seluruh ingatannya lenyap.

"Apa yang terjadi dengan Lynx? Kenapa wajahnya menunjukkan ekspresi aneh begitu?" Tanya Lala yang memperhatikan Lynx.

"Abaikan itu, kita harus segera memasuki portal sebelum terlambat." Kata Leena dengan cepat.

Leena sambil mengusap air matanya, segera menarik tangan Lynx memasuki portal bersama yang lainnya. Didalam portal itu, Leena dapat melihat lorong panjang yang mengarahkan mereka kesuatu tempat.

Namun ternyata diluar dugaan Lynx, kekuatannya masih terlalu besar. Meski segel banyak mengunci kekuatan dan ingatannya, tapi tubuhnya sudah bukan tubuh manusia biasa lagi. Tubuhnya sudah dibentuk ulang oleh kekuatan batu meteor sehingga terjadi badai lain yang lebih dahsyat di dalam portal dimensi.

Lynx dalam kondisi hilang ingatan, diserang oleh petir yang ada di dalam portal. Leena yang memegang tangan Lynx, terlepas dan terjatuh saat berusaha menarik Lynx untuk menghindari petir tersebut, lalu Arkha dan yang lainnya berusaha menolong.

"Kita harus menolong Lynx," teriak Lala.

"Bagaimana caranya? Kenapa kepala suku bertindak aneh?" Tanya Narendra dengan kebingungan.

Tiba-tiba petir yang sebelumnya datang lagi. Tanpa ragu, Leena berlari dan menghalangi petir yang akan menyambar Lynx. Namun telat, petir tersebut mengenai Lynx, dan sedikit percikannya mengenai Leena.

Terjadi ledakan besar didalam portal. Beruntungnya, mereka semua berhasil keluar, terlempar dari portal. Namun saat mereka terbangun, mereka baru menyadari, teman-teman mereka sudah tidak ada. Mereka berpindah ke dimensi lain dalam keadaan terpencar-pencar terpisah tanpa di ketahui dimana yang lainnya berada.

